Daily Snippet

Taxi driver speak up

taxi

Picture by http://www.flickr.com/photos/aristide/.

OK where do we start…this is just a common conversation while you seat back in the cabs, went to somewhere. Percakapan biasa dan pertanyaan biasa yang sering adalah mengenai keluarga dan pekerjaan. Well, semua pekerja pasti membicarakan hal yang sama. Keluarga membutuhkan pekerjaan dan hasil dari pekerjaan pasti untuk keluarga.

Driver pertama menceritakan pekerjaannya sebelum bekerja di perusahaan taxi Sidoarjo City. He works for a chinese gold jewellery expedition. Berat secara tanggung jawab, karena yang dibawa adalah perhiasan. Rute yang biasa dilewati adalah sekitar Jawa Timur dengan menggunakan Panther. Pernah suatu hari dalam perjalanan rutin pekerjaan dia merasa ban mobilnya ditembak paku dan mulai kempes. Setelah mengamati sekitar dia juga sadar ada mobil di belakangnya yang membuntuti. Merasa keamanannya terancam dan merasa tidak mungkin berhenti, dia mencari lokasi yang aman untuk berhenti mengganti ban. Untunglah ada pabrik terdekat dan security-nya mengerti kondisi Bapak driver tersebut dan kemudian mengijinkan mengganti ban mobilnya di parkiran pabrik. Tetapi setelah mengganti ban tersebut tak lantas dia bisa melanjutkan perjalanan. Mobil yang membuntutinya menunggu di dekat pabrik. Bapak driver itu-pun akhirnya minta ijin ke security untuk bermalam. Keesokan harinya, setelah merasa aman dia melanjutkan perjalanan kembali.

Dia juga menceritakan kondisi ekonomi perusahaannya sewaktu terkena imbas krisis moneter Indonesia tahun 1997. Tidak sampai dipecat tapi memang perusahaan tidak mampu membiayai gaji karyawan. Setelah beberapa waktu, perusahaannya mampu bergerak kembali. Dan bos-nya memanggil dia untuk bekerja lagi. Tapi nasib berkata lain, merasa sudah senior Bapak driver ini tidak mau diperlakukan sama seperti karyawan lain yang baru masuk. Akhirnya dia menolak dan kemudian sampailah dia pada pekerjaanya sekarang. Taxi driver.

Driver kedua. Bekerja di perusahaan taxi Sidoarjo City juga. Sebelumnya Bapak yang satu ini lama bekerja di sebuah perusahaan otomotif di Jakarta. Kenapa memilih Jakarta?, karena penghasilan disana cukup untuk menafkahi keluarganya di Sidoarjo. Dia punya 2 anak, yang paling besar perempuan, sudah menikah, dan yang paling kecil laki-laki masih SMK. Anaknya yang laki-laki ini sudah 2 tahun sekolah di SMA, tetapi entah karena merasa kurang cocok atau karena alasan lain dia minta Bapaknya untuk pindah sekolah ke SMK dengan resiko mengulang dari awal.

Tujuan utamanya adalah membiayai sekolah anak pertamanya yang kuliah di Universitas Surabaya. Image Ubaya di kepala saya memang itu kampus mahal. Tetapi setelah anaknya lulus kuliah, dia merasa gelo atau menyesal karena seminggu setelah lulus, anaknya dilamar putra dari keluarga keturunan Cina dengan usaha toko serba ada. Apa yang dia cita-citakan agar anaknya bekerja sesuai kuliahnya seperti sia-sia. Karena setelah menikah putrinya tidak bekerja, suaminya sudah kaya. Sedikit membesarkan hati Bapak tersebut, saya menyanjung dia karena di tengah pergaulan anak muda yang sedikit banyak sudah meniru gaya orang Barat, dia bisa menerima lamaran untuk putrinya, dan selesailah tanggung jawab dia sebagai seorang Ayah karena tanggung jawab itu sudah diserahkan ke suami putrinya.

Apa yang membuat dia kembali ke Sidoarjo setelah mempunyai kerja yang mapan di Jakarta adalah karena oleh bos-nya dia disuruh bekerja di salah satu cabang perusahaan di luar Jawa. Merasa sudah cukup banyak pengalaman dan tidak terlalu banyak tanggungan keluarga, dia memutuskan balik kampung daripada harus keluar Jawa dengan resiko akan jarang mengunjungi keluarga. Selama di Jakarta saja tidak jarang dia harus naik kereta api pulang ke Sidoarjo jika anaknya sakit atau ada urusan keluarga yang lain. Sempat malah kata dia hampir tiap seminggu sekali pulang.

Setelah resign dan kembali ke Sidoarjo modal yang dimilikinya hanya rumah dan sebuah mobil mini-van. Dia berpikir keras pekerjaan apa yang menyenangkan dan tidak harus bekerja terlalu ngoyo. Well, everyone is getting older. Taxi driver pilihannya. Alasannya sederhana, dia mempunyai opsi memiliki mobil taxi tersebut setelah mencicil beberapa waktu. Dan kemana-mana bisa naik mobil bersama keluarga. Mobil mini-van dijual, berganti sebuah mobil Toyota Soluna warna putih. Sebelumnya, dia harus pergi ke Malang untuk nego pekerjaannya, karena memang pusatnya di Malang. Ceritanya berlanjut dengan kondisi perusahaan taxi. Jaringan perusahaannya adalah di Malang dan Sidoarjo dengan nama taxi Sidoarjo City dan Malang City (saya belum pernah tahu tentang Malang City). Yang punya adalah seorang manajer klub sepak bola ternama di kota Malang (Arema). Mananajer klub tersebut membeli perusahaan taxi ini dari keluarga Cendana (Mbak Tutut), dulunya bernama taxi Citra.

Driver ketiga. Berhubung sudah di tengah puasa Ramadhan saya bertanya traffic penumpang taksi dari Juanda ke berbagai kota sekitar Surabaya. Katanya sepi. Dia baru mendapat 2 tarikan hari itu. Bapak ini lebih banyak menceritakan keluarganya. Mulai dari dia sendiri yang mengaku dijodohkan orang tuanya. Tidak ada pacaran seperti anak jaman sekarang. Tidak pernah boncengan motor kesana kemari. Dalam proses yang singkat langsung orang tua istrinya minta segera melamar dan akan dinikahkan. Jujur dia bercerita tidak ada cinta waktu itu, orang baru kenal. Dan tantangan yang pertama muncul dari belum saling mengenal itu adalah rasa canggung. Teman-teman istrinya sudah banyak memberikan cerita-cerita buruk tentang hubungan suami istri. Untung dia lebih sabar dan pengertian. Dan mungkin kata orang Jawa bilang juga benar kalo udah biasa, cinta datang sendiri.

Anak pertamanya yang perempuan sudah menikah. Dulu disekolahkan di pesantren Tebuireng Jombang. Setelah menginjak usia madrasah aliyah, nyai-nya mulai menawarkan seorang pria untuk calon suaminya. Kata nyai, pria tersebut sudah mapan pekerjaanya. Tetapi karena tidak suka dijodohkan dan tidak kenal, sifat anaknya jadi antipati. Sejak itulah dia mulai tidak kerasan dan minta pulang. Setelah lulus baru pindah ke Sidoarjo dan bekerja di suatu industri. Disana dia bertemu suaminya yang sekarang dan mengontrak rumah yang masih satu Kabupaten. Sempat terjadi pertengkaran dan anaknya ini kembali ke orangtuanya. Bapaknya kemudian menasehati bahwa suaminya itu adalah pilihannya sendiri, sudah lama berkenalan dan membanding-bandingkan dengan pengalamannya dulu yang tanpa perkenalan dan dijodohkan pula.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s