Daily Snippet

Mata Memerah

Mata memerah a.k.a belekan. Sebuah penyakit menular dan siapapun bisa kena. Mulanya si Rafi kecil yang kena, menyusul istri saya yang suka mencium rafi.

Pertama mata yang kiri melepuh seperti habis ditonjok, saya coba olesi madu yang sudah saya tiupkan bacaan alfatihah di kelopak mata (pernah membaca hal ini pernah dilakukan sahabat Nabi shalallahu’alaihi wa salam, tapi untuk penyakit lain) sebelum tidur. Alhamdulillah keesokan harinya kempes tapi matanya masih merah. Beberapa kali diolesi madu juga masih merah. Ok saya coba cara lain dengan searching di google. Ada artikel yang menyebutkan untuk mencari tahu sumber penyakitnya, apakah karena virus atau kuman, supaya obatnya lbh tepat sasaran. Ikhtiar saya teruskan dengan periksa ke spesialis mata di rsud sidoarjo (solusi harga terjangkau). Membayar dulu pendaftaran 20 ribu. Kemudian langsung ke poli mata. Diperiksa oleh dr. Pinky yang menurut istri saya ramah dan simpatik. Resep dan surat istirahat 3 hari pun diberikan dengan terlebih dulu membayar 32 ribu. Istri yang sedari awal pesimis dengan pengobatan ilmiah hanya mengkonsumsi nonflamin dan beberapa obat tetes dari cendo 2 hari saja. Matanya masih merah.

Ikhtiar selanjutnya dengan pijat telapak kaki dan terakhir ada teman yang menyarankan minum jamu. Setelah 3x minum baru alhamdulillah lumayan kelihatan hasilnya. Proses sampai sìni memakan waktu lebih dari 1.5 minggu. Mungkin memang sudah waktunya sembuh.

Barusan kondisi mata istri agak baikan giliran mata kiri saya yang tertular. Awalnya terasa gatal dan mengganjal baru esoknya memerah. Beberapa kali minum jamu tidak menampakkan hasil. Nekat diobatin dengan obatnya istri. Setelah 3 hari tidak juga beres. Akhirnya pergi ke poli mata RSUD. Receptionisnya look shocked ketika mereka tahu saya memakai obat istri saya. Dokter yang memeriksa-pun kelihatannya merasa dilangkahi. Terlihat dari ekspresinya yang galak. Dia bilang sudah biasa mengambil matanya orang karena sudah useless..wuik. “Makanya jangan sembarangan ngasi obat.” katanya. Pak Dokter juga tidak mencerdaskan pasien dengan tidak menjelaskan penyakit yang saya derita. Bagi saya nilai simpatik dan carenya 50. Bad karena dia nakut-nakutin. Good karena dia sempat menanyakan background kuliah dan pekerjaan saya. Dengan mengucap bismillah Pak Dokter itu menuliskan resepnya. Hanya 1 obat tetes yang harus diteteskan 1 tetes 6x sehari. Resep itupun saya tebus di apotek RSUD. Tapi saya berusaha bertanya harganya terlebih dahulu. Dan amazing ekspresi petugas apotek itu saat saya bertanya harganya. “Sing iki gurung mari, sing iku yo gurung mari,”. Begitu kira-kira keluhannya. Khas pelayanan PNS yang katanya abdi masyarakat. Tapi tetap dia beritahu harganya. Ga pa pa deh asal udah diberitahu. Her job is done, pikirku.

Obatnya sangat mahal bagi saya, 134 ribu. Setelah survey harga keliling apotek satu kota Sidoarjo saya dapat harga paling bagus di Joy apotek. 121 ribu. Nama obatnya LFX, masih dari cendo. Penasaran apa bedanya dengan xitrol. Apotekernya bilang dosis antibiotiknya lebih tinggi.

selalu ramai

Standard

One thought on “Mata Memerah

  1. Novita says:

    Saya juga kok drsud polimata sama dokter lakik,,pas saya tanya mata saya knp cmn djwb lah kamu kenapa lhoo. Mangkelno. Tapi suda lumayan reda kok merahnya skr pindah sebelah kanan beli diapotik 7 hrganya lbh terjangkau 77rb. ☺☺

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s