Islam

Lidah, what you’ve done to me?

Ya, lidah memang tak bertulang. Tidak terasa jika telah berbuat dosa. Merasa telah banyak berbuat dosa dengan lidah ini, saya pun mulai mencari tuntunan Islam tentang apa yang harus kita lakukan dengan lidah ini dari artikel-artikel di Almanhaj. Allah berfirman : “Dia menciptakan manusia dan mengajarinya berbicara”[Ar-rahman:2-3] . Berbicara disini tentulah tentang hal yang baik-baik, bukan ghibah (gosip), ngomongin yang ngga’ penting seperti waktu jaman SD dulu setiap malemnya nonton MacGyver atau Air Wolf pasti besoknya udah rame-rame diomongin lagi di kelas. Mungkin kalau jaman sekarang sinetron kali ya?.

Jadi inget waktu bulan puasa kemarin ada salah satu iklan rokok yang menarik. Bercerita tentang seorang anak SD yang mengadukan sikap teman-temannya yang suka nge-gosip pada ayahnya. Bahkan dia sendiripun jadi korban gosipan mereka. Si anak langsung bertanya : “Kok ada ya orang yang seperti itu, pa?”. Si Ayah langsung mengambil hp kameranya dan memotret anaknya tersebut. Si anak cuma bisa senyum dan garuk-garuk kepala.

Sebenarnya bisa berbicara itu nikmat Allah. Tapi bila digunakan untuk perkara yang jelek maka musibahlah bagi pemiliknya. Dalam keadaan seperti itu, maka orang yang tidak diberi nikmat berbicara keadaannya jauh lebih baik.

Dari Abdullah bin Umar, Nabi shalallahu’alaihi wasallam bersabda: “Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”[H.R Bukhari].

Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari dalam Kitab Shahihnya : “Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga”. Dua janggutnya maksudnya adalah mulut dan dua kakinya maksudnya adalah kemaluan.

Dalam hadis lain Nabi shalallahu’alaihi wasallam bersabda : dari Mu’adz bin Jabal “…, Maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua perkara?”. Jawabku: “Ya, wahai Rasulullah “. Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda : “Jagalah ini”. Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan?”. Maka beliau bersabda : “Semoga engkau selamat. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka, selain ucapan lidah mereka?.”[H.R Tirmidzi].

Dapat kita lihat betapa lidah adalah lebih dari pengecap rasa makanan. Dia juga bisa menentukan tangan mana yang akan menerima kitab amal kita di akhirat nanti. Kanan atau kiri. Dan pintu mana yang akan kita masuki. Neraka atau surga. Marilah kita saling mengingatkan jika diantara kita, terutama jika sudah saling berkumpul dengan kawan-kawan atau bersilahturahmi dengan saudara, untuk menjaga lisan kita.

Sembari menjaga lisan ada satu lagi yang pengaruhnya sama atau bahkan lebih dahsyat lagi dari lisan, yaitu tulisan. Ya, tulisan. Mengapa lebih dahsyat?, karena tulisan berumur lebih panjang dari lisan. Jika seseorang sudah meninggal maka tulisan-tulisannyalah yang akan tetap dibaca orang dan memberikan pengaruh. Apa-apa yang kita tulis, balasannya akan sesuai. Apakah tulisan kita mengajak dalam kebaikan atau malah sebaliknya?. Bagaimana dengan tulisan anda?.

Standard

2 thoughts on “Lidah, what you’ve done to me?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s