Saya hanya mempunyai 1 point yang membekas dari khutbah Jum’at kemarin dan insyaAllah akan selalu saya ingat.
Jika kita akan sholat berjama’ah di masjid, kemudian menemukan bahwa jama’ah sudah dimulai, tetapi shaf sebelah kanan dan kiri tidak imbang. Shaf sebelah kanan lebih banyak dan membuat posisi Imam tidak di tengah. Sudah tentu kita harus mengambil shaf di sebelah kiri.
InsyaAllah pahala kita akan tercatat seperti orang yang mengambil shaf kanan karena niat kita ingin mengambil shaf kanan yang lebih mulia, dan memang masih ada ruang, tetapi kita lebih memilih shaf kiri untuk mengambil pahala keutamaan shalat berjama’ah.
Kenapa bisa membekas?. Ya, karena saya seperti disindir. Tidak ada kaitannya dengan shalat berjama’ah tetapi … saya mempunyai niat memiliki suatu awal yang baik dalam perjalanan menuju pernikahan yang diidamkan.
Bisa saja saya hanya memendam niat dan tidak berikhtiar. Bisa saja saya memilih untuk tidak mengikuti apa yang sudah diajarkan oleh syariat Islam dalam proses menuju akad. Bisa saja saya terlalu berlarut dalam suatu hubungan dan menyebabkan penyakit hati, dimana posisi Allah tidak lagi jadi nomer satu. Tetapi pada akhirnya saya memilih melakukannya sesuai syari’at dan … aku mencintaimu Ya Nabi. Engkau shalallahu’alaihi wasallam telah memberi nasehat yang terbaik. InsyaAllah awal yang baik, seterusnya akan baik pula.
Ya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu di hati, Maha membolak-balik hati, inilah ikhtiarku. Selebihnya aku pasrahkan kepada-Mu. Mati, rizki, dan jodoh-ku Engkau yang tahu.
