Terkadang jika kita dilanda sesuatu yang buruk, mungkin kehilangan seseorang yang kita cintai atau terkena musibah lainnya, dengan cepatnya kita menganggap bahwa Allah tidak adil atau Allah tidak berpihak pada kita. Dan akhirnya naudzubillah, kita dengan cepat pula berpaling dari-Nya, dengan kembali berani melanggar larangan dan meninggalkan kewajiban.
Padahal jika kita beranggapan seperti itu, maka dengan cepat pula Allah akan memalingkan kita dari yang hak(kebenaran). Tapi jika kita mengikhlaskan dan menerima segala sesuatunya itu sudah merupakan takdir yang ditetapkan Allah, dan menetapkan diri untuk selalu mendekatkan diri pada Allah, maka Allah-pun insyaAllah akan memalingkan kita pada yang hak, meringankan beban kita, dan menunjukkan jalan keluar yang kita tidak akan pernah menduganya.
Segala sesuatunya telah diciptakan oleh Allah 50.000 tahun sebelum penciptaan. Dan yang Allah ciptakan tidak hanya yang Allah sukai saja, tapi juga yang Allah tidak sukai. Seperti jika kita melakukan maksiat, Allah tidak menyukainya. “Artinya : Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” [Ash-Shaff : 5].
Semua itu kembali pada diri kita, apakah mau menempuh jalan yang penuh kebatilan atau menempuh jalan yang benar dan diridhoi oleh Allah. Tapi bukan berarti kita hanya bersandar pada takdir dan menunggu takdir menimpa pada diri kita, tapi tetap ada ikhtiar atau usaha. Dan setelah berusaha maka semuanya kita kembalikan pada Allah.
Tapi bukan berarti jika kita telah menempuh jalan yang benar lalu semuanya akan mudah. Tidak. Pasti ada rintangan. Allah pasti akan menguji hamba-Nya yang mengaku beriman. Tapi sekali lagi, insyaAllah jika kita terus di jalan kebenaran, selalu ada kemudahan. Semoga bermanfaat.
“Artinya : Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (Surga), dan menunjuki orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus (Islam).” [Yunus : 25]
“Artinya : (Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” [At-Takwir: 28-29]